Sabtu, 08 Oktober 2011

BI: Berkaca dari Krisis 2008, Likuiditas Bank Diperkuat

JAKARTA - Meskipun cadangan devisa Indonesia turun sekira USD10 miliar, Bank Indonesia (BI) menegaskan hasil stress bank menunjukan perbankan Indonesia mengalami ketahanan yang kuat.

"Perbankan kita masih kuat untuk menghadapi krisis, likuiditas masih oke, NPL (risiko kredit macet) dan CAR (rasio kecukupan modal) masih aman, kredit juga terus tumbuh, jadi kondisinya beda dengan krisis 2008,” ungkap Juru Bicara Difi A Johansyah ketika ditemui di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (7/10/2011).

Menurut Difi, krisis yang terjadi sekarang sangat berbeda dengan yang terjadi di 2008 dan 2009 lalu. Pasalnya, saat itu, likuiditas perbankan di Indonesia tidak terjaga dengan baik sehingga harga Surat Utang Negara (SUN), dan suku bunga perbankan naik.

"2008, faktor eksternal buat terjadi outflow besar jadi harga SUN jatuh. Nah tanda-tanda krisis di 2008 ini belum terlihat sekarang," lanjutnya.

Belajar dari apa yang terjadi di 2008 tersebut, Bank Indonesia membuat stress test yang mengharuskan likuiditas perbankan nasional seperti Giro Wajib Minimum (GWM) harus melebihi kondisi saat krisis  "Bantalan likuiditas perbankan masih bagus dengan jumlah likuiditas masih memadai, jadi kita buat likuiditas perbankan lebih kuat,” tambahnya.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Bidang Pengawasan Perbankan BI Halim Alamsyah juga pernah mengemukakan bahwa pihaknya telah melakukan stress test untuk melihat ketahanan perbankan Indonesia dalam mengahadapi krisis global dibuktikan dengan likuiditas, CAR dan pertumbuhan kreditnya. (wdi)

http://economy.okezone.com/read/2011/10/07/457/512260/bi-berkaca-dari-krisis-2008-likuiditas-bank-diperkuat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar