Sabtu, 08 Oktober 2011

Pupuk urea bersubsidi berubah warna jadi pink

Bengkulu (ANTARA News) - Pupuk urea bersubsidi mulai Oktober 2011 berubah warna dari putih menjadi pink guna mempermudah para petani mengenal pupuk itu.

Kepala Cabang PT Pusri Bengkulu, Lambang Santoso, di Bengkulu, Sabtu, mengatakan, pihaknya sudah mensosialisasikan perubahan pupuk urea bersubsidi dari putih ke pink kepada para distributor dan petani di daerah itu.

Menurut dia, hal ini dimaksudkan agar para distributor dan petani di Bengkulu mudah membedakan mana pupuk bersubsidi dan nonsubsidi di lapangan.

"Kalau selama ini petani sulit membedakan mana pupuk bersubsidi dan yang tidak, karena warnanya sama-sama putih. Tetapi, mulai Oktober ini pupuk urea bersubsidi sudah berubah menjadi pink," ujarnya.

Meski warga pupuk bersubsidi berubah dari putih menjadi pink, tapi kualitas tetap seperti biasa. Demikian pula harga tebus pupuk bersubsisi tetap sebesar Rp1.600/kg.

Demikian pula dengan pupuk urea non subsidi harganya tetap sebesar Rp4.000-Rp5.000/kg atau tergantung dengan mekanisme pasar. "Yang berubah hanya warna pupuk urea bersubsisi saja dari semula putih menjadi pink," ujarnya.

Lambang mengatakan sosialisasi perubahan warna pupuk urea bersubsidi ini akan dilaksanakan di seluruh kabupaten/kota di Bengkulu, sehingga masyarakat dan petani di daerah ini lebih cepat mengenal pupuk bersubsidi tersebut.

Sebab, kata dia, sebentar lagi petani di Bengkulu akan turun ke sawah untuk memulia masa tanam kedua tahun 2011, sehingga mereka dipastikan membutuhkan pupuk bersubsidi dalam jumlah besar.

Oleh karena itu, sosialisasi perubahan warna pupuk bersubsidi dari putih menjadi pink akan dipercepat di seluruh kabupaten/kota di Bengkulu, sehingga ketika mereka akan membeli pupuk tersebut tidak binggung lagi karena sudah mengetahui perubahan warga tersebut.

Provinsi Bengkulu pada 2011 mendapat jatah pupuk bersubsidi dari Kementerian Pertanian (Kementa) sebanyak 22.000 ton. Jatah pupuk bersubsidi sebanyak ini diperuntukan bagi petani di 10 kabupaten/kota di daerah tersebut.

Dari alokasi sebanyak itu, sampai Oktober sudah terserap oleh petani di Bengkulu sekitar 80 persen. Sedangkan sisanya diharapkan dapat diserap petani sampai akhir Desember mendatang, katanya. (ANT-212) 


http://www.antaranews.com/berita/278807/pupuk-urea-bersubsidi-berubah-warna-jadi-pink

Program kredit BNI patut ditiru

Jakarta (ANTARA News) - Program kredit BNI yang fokus pada industri unggulan dan industri potensial di sejumlah daerah mendapat dukungan sejumlah politisi DPR di Komisi XI DPR. Itu karena dianggap dapat mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Dalam rapat dengar pendapat Komisi XI DPR RI dengan jajaran direksi BNI di Jakarta, Kamis, anggota Fraksi Partai Golkar, Nusron Wahid, sangat menghargai program kredit BNI yang sesuai visi dan misi pertumbuhan ekonomi Presiden Susilo Yudhoyono.

Visi dan misi itu untuk mendorong pertumbuhan ekonomi berkualitas dengan membiayai proyek-proyek komoditi unggulan di sejumlah daerah.

"Ini jarang dilakukan perbankan, apalagi bank swasta karena biasanya yang mereka kejar hanya bunga dan potensi keuntungan saja dari proyek apapun," kata Nusron.

"Ini harus kita rekomendasikan kepada Bank Indonesia agar semua bank bisa seperti ini," katanya.

Sementara itu anggota fraksi PDIP, Maruarar Sirait, mengatakan, sangat mendukung upaya BNI untuk mendorong industri-industri unggulan terutama di sektor minyak dan gas bumi yang selama ini kesulitan dalam mengembangkan produksinya.

"Ini harus diikuti dengan perekrutan tenaga-tenaga ahli di bidang migas sehingga pembiayaannya menjadi efektif untuk mendorong produksi migas kita," katanya.

Sebelumnya, Direktur Utama BNI, Gatot M Suwondo, mengatakan, pihaknya telah mengidentifikasi potensi usaha dan industri di seluruh wilayah Indonesia sebagai bagian strategi bisnis dan juga mendukung arah pembangunan ekonomi.

Oleh karena itu, katanya ,sejak beberapa waktu lalu BNI telah membentuk tim dan dipimpin oleh oleh ahli ekonomi regional di tiap kantor wilayah BNI.

Tim itu bertugas memetakan industri unggulan di masing-masing daerah, mengidentifikasi kota/daerah yang mengalami pertumbuhan lebih cepat, dan membantu atau menjadi mitra pemerintah daerah menyelaraskan arah pembangunan.

BNI telah menetapkan delapan sektor unggulan sebagai fokus bisnis, yaitu pertanian, komunikasi, kelistrikan, perdagangan besar dan eceran, migas dan pertambangan, konstruksi, makanan minuman termasuk rokok, dan bahan kimia/pupuk termasuk barang dari karet.

Industri unggulan di daerah-daerah yang telah diidentifikasi BNI antara lain adalah perdagangan dan perkebunan sawit- karet di Sumatera Utara, migas dan perkebunan sawit-karet di Riau, industri manufaktur di Kepulauan Riau, migas, pertambangan, dan perkebunan sawit-karet di Sumatera Selatan. (ANT)



http://www.antaranews.com/berita/278540/program-kredit-bni-patut-ditiru

Jumlah kemiskinan harus dapat diturunkan

Batulicin (ANTARA News) - Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Menkokesra), Agung Laksono, meminta para pipinan daerah dapat secepat mungkin menurunkan angka kemiskinan yang hingga saat ini masih melanda warga.

Permintaan itu disampaikan Agung Laksono pada saat melakukan kunjungan kerja sekaligus meninjau kondisi rumah sakit umum daerah, Amanah Husada, di Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan, Sabtu.

"Secara nasional penduduk miskin di Indonesia masih 12,5 peren. Tanah Bumbu yang memiliki sumber daya alam melimpah sudah sepatutnya dapat turut mengurangi jumlah kemiskinan tersebut," katanya.

Melihat kondisi rumah sakit yang SDM nya masih dianggap penuh dengan keterbatasan, Agung Laksono berharap adanya sumber dana yang lain baik dari APBD daerah maupun APBD provisi untuk upaya peningkatan pelayanan kesehatan secara maksimal melalui rumah sakit tersebut.

Alokasi APBD, menurut dia, harus benar-benar digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sehingga tidak banyak terpakai untuk kepentingan belanja pegawai.

Menurut Agung, beberapa faktor terpenting dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat adalah terciptanya pelayanan kesehatan dan layanan pendidikan secara baik dan bermutu.

Pendidikan tidak hanya diprogramkan secara gratis, tapi mutu yang diberikan juga hurus diperhatikan sesuai daya saing kemajuan teknologi yang berkembang di masyarakat, ujarnya.

"Beruntunglah Tanah Bumbu yang selama ini memiliki sumber daya alam melimpah berupa tambang batubara, perkebunan karet dan kelapa sawit. Sudah selayaknya potensi itu dikembangkan untuk kesejahteraan masyarakat seiring meningkatnya daya saing ilmu pendidikan," jelasnya.

Ia mengemukakan, dari sektor perkebunan potensi hasil yang diperoleh masyarakat dan pemerintah seharusnya tidak berupa kelapa sawit dan karet saja.

Lebih dari itu, menurut dia, potensi dari usaha lain berupa pabrik karet dan pabrik minyak kelapa sawit juga diharapkan mampu berkembang dimasyarakat guna menyerap tenaga kerja sekaligus mengurangi jumlah pengangguran yang ada.

"Termasuk kesehatan pelayanannya harus lebih meningkat. Jangan sampai Tanah Bumbu yang kaya sumber daya alam rumah sakitnya kurang memadai. Tentunya, semua itu harus didukung dengan sistem kepeminpinan pemerintah yang lebih baik," demikian Agung Laksono. (*)


http://www.antaranews.com/berita/278856/jumlah-kemiskinan-harus-dapat-diturunkan

Nesttle investasi di Indonesia 200 juta dolar AS

Jakarta (ANTARA News)- Sebuah perusahaan dari Swiss, Nesttle SA berencana akan melakukan investasi di Indonesia senilai 200 juta dolar Amerika Serikat (AS) untuk mendirikan pabrik kakao karena diprediksi pasarnya dalam beberapa tahun ke depan sangat besar.

Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo), Zulhefi Sikumbang, kepada pers di Jakarta, Jumat, mengatakan bahwa rencana Nesttle untuk investasi di dalam negeri harus mendapat dukungan dari pemerintah, karena akan membuka lapangan kerja baru.

Apabila investor lainnya juga ingin investasi seperti yang dilakukan Nesttle, maka pasar kakao di dalam negeri akan tumbuh besar, katanya.

Menurut dia, pasar kakao di Indonesia akan tumbuh signifikan dengan masuknya sejumlah investor asing ke industri tersebut, selain pasar yang besar juga didukung oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

"Kami optimis industri kakao akan kembali berkembang, karena sejumlah produsen kakao di dalam negeri cenderung mati suri," ucapnya.

Ia menambahkan, Nesttle sebelumnya mendirikan pabrik kakao di Malaysia, namun pasarnya dinila kecil, sehingga sulit berkembang, karena itu berusaha untuk melebarkan sayapnya dengan masuk ke pasar Indonesia.

Produk kakao dari Malaysia pada umumnya diekspor ke Indonesia seperti Milo (susu bubuk coklat). Pasar kakao Indonesia yang besar itu menarik Nesttle untuk melakukan ekspansi usaha di Asia khususnya di Indonesia, karena jumlah penduduknya yang besar.

Meski saat ini produksi kakao Indonesia merosot hampir 50 persen, akibatnya banyak petani kakao yang mengalihkan kegiatannya ke karet dan kelapa sawit.

Kalau menanam kakao banyak menemui kesulitan karena banyak penyakit, apalagi saat ini iklim tak menentu, dibanding menanam karet, jagung dan kelapa sawit, tuturnya.

Karena itu, para petani harus mendapat penyuluhan dan pemerintah juga harus giat melakukan promosi agar investor asing lebih aktif melakukan ekspansi di pasar domestik.

Konsumsi kakao di dalam negeri sekitar 200.000 ton per tahun, namun kapasitas yang ada baru 170.000 ton, sehingga sisanya diperoleh dari impor.
(T.H-CS/S004)

http://www.antaranews.com/berita/278702/nesttle-investasi-di-indonesia-200-juta-dolar-as

BI: Berkaca dari Krisis 2008, Likuiditas Bank Diperkuat

JAKARTA - Meskipun cadangan devisa Indonesia turun sekira USD10 miliar, Bank Indonesia (BI) menegaskan hasil stress bank menunjukan perbankan Indonesia mengalami ketahanan yang kuat.

"Perbankan kita masih kuat untuk menghadapi krisis, likuiditas masih oke, NPL (risiko kredit macet) dan CAR (rasio kecukupan modal) masih aman, kredit juga terus tumbuh, jadi kondisinya beda dengan krisis 2008,” ungkap Juru Bicara Difi A Johansyah ketika ditemui di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Jumat (7/10/2011).

Menurut Difi, krisis yang terjadi sekarang sangat berbeda dengan yang terjadi di 2008 dan 2009 lalu. Pasalnya, saat itu, likuiditas perbankan di Indonesia tidak terjaga dengan baik sehingga harga Surat Utang Negara (SUN), dan suku bunga perbankan naik.

"2008, faktor eksternal buat terjadi outflow besar jadi harga SUN jatuh. Nah tanda-tanda krisis di 2008 ini belum terlihat sekarang," lanjutnya.

Belajar dari apa yang terjadi di 2008 tersebut, Bank Indonesia membuat stress test yang mengharuskan likuiditas perbankan nasional seperti Giro Wajib Minimum (GWM) harus melebihi kondisi saat krisis  "Bantalan likuiditas perbankan masih bagus dengan jumlah likuiditas masih memadai, jadi kita buat likuiditas perbankan lebih kuat,” tambahnya.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Bidang Pengawasan Perbankan BI Halim Alamsyah juga pernah mengemukakan bahwa pihaknya telah melakukan stress test untuk melihat ketahanan perbankan Indonesia dalam mengahadapi krisis global dibuktikan dengan likuiditas, CAR dan pertumbuhan kreditnya. (wdi)

http://economy.okezone.com/read/2011/10/07/457/512260/bi-berkaca-dari-krisis-2008-likuiditas-bank-diperkuat

Bagaimana Memanfaatkan Devisa Hasil Ekspor?

Bank Indonesia (BI) telah menerbitkan Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 13/20/PBI/2011 tanggal 30 September 2011 tentang Penerimaan Hasil Devisa Ekspor dan Penarikan Devisa Utang Luar Negeri.

Bagaimana bank nasional memanfaatkan banjir devisa hasil ekspor itu? Menurut BI, potensi devisa yang berada di luar negeri mencapai USD31,5 miliar atau setara Rp274,522 triliun. Dana tersebut meliputi USD29 miliar dari devisa hasil ekspor dan USD2,5 miliar dari devisa penarikan utang luar negeri.

Dengan PBI ini, BI berharap seluruh devisa hasil ekspor dapat masuk ke bank nasional. PBI ini juga bertujuan untuk memelihara stabilitas keuangan di tengah kondisi yang tak menentu sebagai dampak krisis utang Amerika Serikat (AS) dan kawasan Eropa.

Pada 27 September 2011, pemerintah pernah menyatakan ekonomi Indonesia dalam status waspada segera setelah harga saham dan nilai tukar rupiah terjun bebas selama sepekan terakhir. Kini status waspada itu sudah dicabut.

Sebagai langkah antisipatif, Kementerian Keuangan sudah menyiapkan mekanisme operasi pasar yang ditopang bond stabilization fund (BSF) dan primary dealer.

BSF tersebut terdiri dari 13 badan usaha milik negara (BUMN) untuk ikut membeli kembali (buy back) surat berharga negara (SBN) ketika harganya anjlok. Primary dealer terdiri dari 18 bank dan empat perusahaan sekuritas BUMN.

Sayangnya anggaran untuk membeli kembali SBN hanya Rp3,12 triliun. Jumlah itu sangat kecil mengingat kepemilikan asing di SBN per 26 September 2011 telah mencapai Rp222,5 triliun.

Kiat Memanfaatkan Peluang
Kebijakan devisa ekspor itu pasti akan membawa berkah bagi bank nasional. Masalahnya, bagaimana bank nasional dapat memanfaatkan valas hasil devisa ekspor dengan jitu? Dengan melubernya devisa hasil ekspor, bank nasional dapat meningkatkan kredit valas.

Tampaknya, buahnya bakal manis. Namun, jangan lupa lebih dulu menghitung potensi risikonya mengingat saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih fluktuatif. Dengan bahasa lebih bening, sudah sepatutnya kredit valas disalurkan kepada perusahaan yang sudah jelas berbasis ekspor ke luar negeri.

Sarinya, menjadi tidak pada tempatnya sekiranya kredit valas justru mengalir ke perusahaan berbasis rupiah. Hal ini akan mengakibatkan ketidaksesuaian (mismatch) pada sumber pendanaan dalam pengembalian utang. Ini sungguh berisiko tinggi dipandang dari sudut manajemen risiko kredit.

Selain itu, tumpahnya valas juga dapat dimanfaatkan untuk membiayai transaksi trade finance (ekspor, impor, bank garansi). Kelebihan valas akan lebih manjur untuk kredit ekspor dan atau membiayai letter of credit (L/C).

Sebagai contoh, bank nasional dapat memberikan fasilitas pembiayaan untuk melunasi kewajiban L/C untuk pembelian bahan baku atau suku cadang untuk kemudian diekspor kembali ke luar negeri.

Hal ini amat diperlukan bagi pelaku usaha menengah, kecil dan mikro (UMKM) yang dianggap sebagai eksportir lemah dari segi kemampuan finansial. Satu lagi. Bank nasional dapat memberikan fasilitas standby L/C (SBLC). Dengan bahasa lebih lugas, bank nasional akan bertindak sebagai bank penerbit L/C (issuing bank) untuk menjamin beneficiary (importir) kalau applicant (eksportir) melakukan wanprestasi atas kontrak jual beli.

Bukan hanya itu. Bank nasional pun dapat memanfaatkan ekses likuiditas valas dengan memberikan fasilitas kepada pelaku UMKM untuk mengambil alih tagihan ekspor secara diskonto dengan hak regres (with recourse). Pembiayaan semacam ini akan memungkinkan pelaku UMKM sebagai eksportir untuk mendapatkan pembayaran lebih cepat atas tagihan ekspor yang belum jatuh tempo.

Untuk mitigasi risiko dalam transaksi trade finance, bank nasional dapat memanfaatkan trade processing centre (TPC). TPC berada di kantor perwakilan atau kantor pusat yang berwenang untuk memverifikasi dokumen L/C yang selama ini dilakukan kantor cabang.

Lalu apa tugas kantor cabang? Kantor cabang meneliti kebenaran dan keaslian dokumen L/C segera setelah menerimanya dari nasabah. Setelah itu, kantor cabang mengirim dokumen itu melalui media elektronik ke TPC. Verifikasi dokumen L/C oleh TPC merupakan salah satu langkah strategis untuk menepis potensi risiko L/C tak terbayar (unpaid) ketika importir tak mampu memenuhi kewajibannya dan kecurangan (fraud).

Kok bisa? Karena TPC dilarang kontak dengan nasabah. Di samping itu,TPC mampu memberikan jaminan keseragaman ketepatan dalam melakukan verifikasi dokumen L/C. TPC pada umumnya dimiliki bank nasional papan atas. Nah, bank nasional lainnya dapat bekerja sama dengan bank pemilik TPC untuk mitigasi risiko sehingga aman.

Namun, sejatinya terdapat potensi risiko orang ketika terjadi rotasi petugas TPC ke unit lainnya. Untuk itu, petugas lama wajib mendampingi petugas baru sampai mahir dalam memverifikasi dokumen L/C.

Tegasnya, bank nasional harus terus memperkaya kompetensi sumber daya manusia (job enrichment) dengan aneka pengetahuan dan ketentuan baru. Alhasil, berkah kian merekah dan risiko kian rendah.

PAUL SUTARYONO
Pengamat Perbankan & Alumnus MM-UGM
(Koran SI/Koran SI/ade)

http://economy.okezone.com/read/2011/10/06/279/511487/bagaimana-memanfaatkan-devisa-hasil-ekspor

Cari Rupiah dari Menulis Buku

SEIRING dengan meningkatnya minat baca masyarakat, semakin banyak pula buku yang beredar. Hal ini menambah lajunya dunia penerbitan. Penulis buku makin banyak dicari oleh penerbit.

Seperti disadur dari buku Bisnis Laris Balik Modal < 1 Tahun karya Alistiorini dan Bambang Suharno yang diterbitkan Penebar Plus, penghasilan bagi penulis naskah pemula untuk setiap buku mencapai lebih dari Rp2 juta per bulan. Jika buku Anda laku di pasaran, tentunya keuntungan pun akan berlipat ganda. Dengan menulis buku, Anda tetap menjalankan aktivitas sehari-hari baik untuk kuliah, sekolah, bekerja, serta aktivitas lainnya.

Dengan sistem jual lepas, per judul yang berisi 100 halaman biasanya dinilai Rp2,5 juta (per halaman Rp25 ribu). Keuntungan lainnya adalah menulis buku ini seperti bekerja freelance, dengan relasi beberapa penerbit buku yang tidak terbatas waktu kerjanya.

Ada beberapa tahapan untuk memulai usaha ini. Yakni memperluas wawasan dengan seiring membaca buku, koran, majalah, atau internet, lalu berupaya untuk menuangkan ide-ide dalam secarik kertas setiap hari, mengikuti kursus  menulis yang banyak diselenggarakan di berbagai tempat, baik online maupun privat,  mencari komunitas baca agar wawasan dan jaringan bertambah sehingga Anda bisa mendapatkan berbagai informasi, mencari buku dan berbagai artikel sebagai referensi ketika menulis, serta jangan lupa mempersiapkan alat-alat yang diperlukan, seperti komputer, alat tulis, printer, dan lainnya.

Tapi sebelumnya, ada beberapa hambatan dalam menulis yang harus bisa diatasi. Misalnya banyak saingan penulis berpengalaman yang sukses di masyarakat, ketergantungan pada mood. Oleh karena itu, pengendalian mood untuk menulis serta dukungan motivasi dari lingkungan sekitar seperti orang tua, kerabat,dan lainnya sangatlah diperlukan. Juga perlunya konsentrasi dalam pengerjaan di sela-sela aktivitas.

Tapi jangan menyerah, ada beberapa tips untuk membuat usaha menulis Anda sukses. Antara lain Anda harus mulai mempromosikan diri melalui pembuatan blog pribadi atau situs jejaring sosial dengan menampilkan hasil karya Anda, seperti puisi, cerpen, artikel, dan sebagainya.

Lalu mencari jaringan beberapa penerbit dan menjaga hubungan baik dengan mereka. Mencari tahu hal apa saja yang menjadi motovasi Anda untuk menulis, lalu kembangkanlah. Serta mengirimkan tulisan-tulisan ke media cetak, seperti majalah atau koran untuk hal-hal yang bersifat ilmiah maupun opini atau cerita pendek. (wdi)

http://economy.okezone.com/read/2011/10/06/455/511548/cari-rupiah-dari-menulis-buku

Penjualan Batubara Akan Terimbas Krisis Global

JAKARTA - Ketua Asosiasi Pengusaha Batubara Indonesia (APBI) Bob Kamandanu menyatakan, krisis global masih belum mempengaruhi penjualan batubara tahun ini.

"Sampai hari ini memang kontrak-kontrak penjualan batubara masih dipenuhi," katanya saat ditemui seusasi diskusi publik mengenai energi dan listrik di Jakarta, Jumat (7/10/2011) malam.

Bob menjelaksan, saat ini memang belum terihat imbasnya. Meskipun ada, maka itu hanya sebatas pengaruh di spot market.  Namun, dia melihat, keadaan ekonomi global akan semakin memburuk. Karenannya, kontrak 2012 yang akan direnegosiasi pada November 2011 akan terpengaruh adanya ancaman tersebut.

"Ini akan masuk waktu-waktu negosiasi, pertengahan Oktober atau November 2011. Nanti setelah dua tiga bulan ke depan akan terlihat indikasinya," katanya.

Adapun harga batubara saat ini, menurut Bob, masih berada di level stagnan yaitu USD120 per ton. Sementara itu, ekspor batubara di Indonesia bukan untuk sektor industri melainkan untuk konsumsi rumah tangga.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Ketua Indonesian Minning Assotiation Tony Wenas menyatakan, krisis global ini harus diantisipasi oleh perusahaan dengan cara penghematan biaya.

selain itu, Tony mengatakan, harga mineral sudah tidak berada di titik keekonomisannya. Imbasnya, perusahaan batubara dengan skala kecil akan berhenti berproduksi untuk sementara waktu. "Saat produksi terhenti, harga akan kembali naik, karena nikel langka di pasaran. Trendnya seperti itu sehabis harga turun, nanti akan naik kembali," tutupnya. (mrt) (rhs)

http://economy.okezone.com/read/2011/10/08/19/512630/penjualan-batubara-akan-terimbas-krisis-global

Soal LNG, Jepang Setia dengan Indonesia

BANDUNG - Adanya pembatasan ekspor gas alam guna memenuhi kebutuhan dalam negeri, tidak membuat pemerintah menghentikan ekpor Liquid Natural Gas (LNG) ke Jepang. Hal ini, disebabkan karena komitmen Indonesia terhadap Jepang.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala BP Migas R Prijono. Prijono mengatakan, Indonesia merupakan negara yang setia pada kontrak kerja dan komitmennya.

Prijono menambahkan, komitmen Indonesia melakukan impor gas ke Jepang membuat Indonesia berada dalam urutan pertama di antara saingan lainnya.

"Australia dan Qatar saingan dalam gas, tapi posisi Indonesia sangat strategis. Uniknya Indonesia, satu negara yang menghormati kontrak, walaupun ada gejolak kontrak tetap diperhatikan," jelas Prijono dalam pemaparan BP Migas di Bandung, Jumat (7/10/2011)

Hal inilah yang membuat Jepang masih setia dengan Indonesia sampai sekarang. "Qatar tidak begitu, Jepang masih berhubungan dengan Indonesia karena kita setia pada kontrak. Qatar bisa berubah, sehari saja dia juga bisa berubah," pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa menjelaskan, ekspor ini dilakukan sebagai bentuk komitmen yang sudah disepakati Pemerintah Indonesia dan Jepang yang sudah dibangun sejak lama.

"Komitmen kita masih kita jalankan. Kalaupun ada tambahan, akan kita lihat jika ada spot. Di situ ada permintaan itu dan secara spot ada space, maka itu bisa kita lakukan," ujar Hatta. (mrt) (rhs)

http://economy.okezone.com/read/2011/10/08/19/512632/soal-lng-jepang-setia-dengan-indonesia

Ratu Atut: Pengembangan Ekonomi Banten Berbasis Sumber Daya Unggulan

SERANG - Setelah pondasi pertumbuhan ekonomi telah terbangun selama 11 tahun berdirinya Banten, maka lima tahun ke depan (2012-2017) skenario pembangunan harus lebih dititikberatkan pada penguatan dan pemantapan yang didasari semangat kebersatuan dan pembaruan.

"Pemantapan struktur ekonomi masyarakat ke depan harus berbasis pada sumber daya unggulan daerah dengan dukungan infrastruktur ekonomi wilayah yang memadai," kata Cagub Incumbent Hj Ratu Atut Chosiyah, di Serang, Jumat (7/10/2011).

Oleh sebab itu, lanjut Ratu Atut, ia akan memberikan prioritas pembangunan infrastruktur fisik hingga ke tingkat pedesaan dengan alokasi dana Rp1 miliar per satu kecamatan yang penyaluran dan pengelolaannya melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat-Mandiri Pedesaan (PNPM-MP).

"Untuk menggugah partisipasi masyarakat, penggunaan dana tersebut diserahkan sepenuhnya kepada musyawarah antara PNPM, Muspika, alim ulama, dan seluruh elemen masyarakat di kecamatan. Biarkan masyarakat mengembangkan kreatifitasnya dalam memanfaatkan dana tersebut," kata wanita pertama dan satu-satunya yang menjadi gubernur di Indonesia ini.

Selain itu, lanjut Atut, tenaga kerjanya juga menyerap sebanyak mungkin dari tenaga lokal, sehingga akan mengurangi angka pengangguran di satu sisi dan meningkatkan keberdayaan perekonomian rakyat. "Dana tersebut dimaksudkan sebagai upaya percepatan pembangunan secara merata di Banten," tandasnya.

Dijelaskan, empat kebupaten dan empat kotamadya di wilayah Banten memiliki sumber daya unggulan yang berbeda-beda. Ambil misal, wilayah Pandeglang dan Lebak yang memiliki sumber daya pertanian sangat besar akan difokuskan untuk memperkuat struktur dan kualitas ekonomi masyarakat yang berbasis pertanian.

Berbeda dengan Kota Cilegon dan Serang, yang akan menjadi basis transformasi budaya masyarakat agraris menjadi industri, tetapi dengan tetap mempertahankan norma-norma dan kearifan lokal.

Sementara untuk penyediaan infrastruktur yang mendukung ekonomi wilayah dan infrastruktur yang menghubungkan pertumbuhan ekonomi antarwilayah akan difokuskan di wilayah Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang dan Kota Tangerang Selatan.

"Misalnya infrastruktur transportasi, terminal agro, kelembagaan pasar, akses modal usaha rakyat, pengembangan teknologi tepat guna serta jaringan promosi dan pemasaran agro," kata Atut.

Skenario tersebut akan dapat berjalan dan bergerak dengan dinamis, manakala tata kelola penyelenggaraan pemerintahan lebih bersih dan kuat. Oleh sebab itu, pada lima tahun ke depan sudah saatnya semangat pembaruan benar-benar diimplementasikan ke dalam program reformasi birokrasi.

Antara lain, sambung Atut, dengan merestrukturisasi, merefungsionalisasi dan revitalisasi lembaga-lembaga pemerintahan, masyarakat, adat ke arah entrepreneurship government. Tentu saja, hal ini juga harus didukung oleh teknologi informasi dan telekomunikasi.

Menurut Atut, perekonomian Banten akan mampu berkembang dengan pesat apabila dilakukan pengembangan kelembagaan sosial-ekonomi masyarakat di bidang pertanian dalam arti luas dan pengembangan kesetaraan antara dunia pendidikan dan dunia usaha, serta pengemangan sumberdaya manusia di bidang teknologi informasi.

Pengembangan Wilayah

Ketika disinggung mengenai skenario pengembangan wilayah, Ratu Atut mengatakan, strategi tersebut akan menyasar Kawasan Bandara Soetta, Kawasan Pelabuhan Bojonegara dan Kawasan Stasiun Rangkasbitung. Di setiap kawasan akan diberikan fokus, Bandara Soetta misalnya, berupa pengembangan wilayah strategis dengan dukungan aksessibilitas jaringan transportasi darat.

Sedangkan di Bojonegara akan menjadi fokus penyedian aksesibilitas jaringan transportasi barang dan penyediaan infrastruktur dasar penunjang pelabuhan. Kemudian di Kawasan Stasiun Rangkasbitung, akan lebih diprioritaskan pada penyerdiaan jaringan transportasi rakyat dan usaha agro dalam memperlacar sistem distribusi dan produksi agro.

"Hal ini tentu saja lima tahun ke depan, saya akan berusaha memfungsikan kembali jaringan kereta api yang sudah lama tak berfungsi sebagai modal utama. Ini menjadai bagian dari pengembangan feeder system dan koridor dalam menunjang fungsi multigates system," demikian kata Ratu Atut. (//wdi)